Sudah Tahu Sejarah Awal Film Musikal? Yuk Simak

Film musikal merupakan sebuah genre film di mana di dalamnya terdapat lagu yang dinyanyikan oleh para karakter yang terjalin ked alam narasi, kadang-kadang disertai dengan menarik.

Jenis film ini merupakan perkembangan alami dari panggung music setelah munculnya teknologi film suara.

Biasanya, perbedaan terbesar antara music film dan panggun adalah penggunaan latar belakang pemandangan yang mewah dan lokasi yang akan praktis dalam teater.

Sejarah Awal Film Musikal

Sejarah Awal Film Musikal

Tahun 1930 sampai 1960 dianggap sebagai usia emas dari film musikal, ketika popularitas genre berada di tertinggi di dunia Barat.

Film pertama adalah music film pendek yang dibuat oleh Lee De Forest di tahun 1923 – 1924. Setelah itu, ribuan Vitaphone pendek (1926 – 1930) dibuat, banyak yang menampilkan band, penari, dan vokalis.

Dimana soundtrack music dimainkan saat actor digambarkan karakter mereka seperti yang mereka lakukan di film tanpa dialog.

The Jazz Singer, dirilis pada 1927 oleh Warner Brothers, tidak hanya film pertama dengan dialog disinkronkan, tetapi film fitur pertama yang juga merupakan musik, menampilkan Al Jolson menyanyikan:  

  • “Dirty Hands, Dirty Face;”
  • “Toot, Toot, Tootsie”
  • “Blue Skies”
  • “My Mammy”.

Sejarawan Scott Eyman menulis, “Ketika film ini berakhir dan tepuk tangan tumbuh dengan houselights, istri Sam Goldwyn, Frances memandang berkeliling pada selebriti di keramaian.

Dia melihat ‘teror di semua wajah mereka’ katanya, seolah-olah mereka tahu bahwa ‘permainan mereka telah bermain selama bertahun-tahun akhirnya berakhir.

Namun, hanya urutan Jolson yang telah terdengar dan sebagian besar film itu diam. Akhirnya Hollywood merilis lebhih dari 100 film musikal pada tahun 1930.

Namun di tahun 1931 hanya mengeluarkan 14 film. Pada akhir 1930 an penonton sudah jenuh dengan music dan studio kemudian dipaksa untuk memotong music dari film-film yang ada.

Seperti  Life of the Party (1930) pada awalnya diproduksi sebagai semua-warna, komedi semua-bicara musik.

Life of the Party

Sebelum dirilis, bagaimanapun, lagu-lagu dipotong keluar. Hal yang sama terjadi pada Fifty Million Frenchmen (1931) dan Manhattan Parade (1932) yang keduanya telah difilmkan sepenuhnya di Technicolor.

Marlene Dietrich lagu bernyanyi sukses di film, dan Rodgers dan Hart menulis diterima dengan baik beberapa film, tetapi bahkan popularitas mereka memudar oleh 1932.

Public dengan cepat datang untuk mengasosiasikan warna dengan musikan serta dengan demikian penurunan popularitas mereka juga menghasilkan penurunan.

Di tahu 1960, 1970, dan hingga sekarang film musikal menjadi kurang diandalkan dan kurang hits. Penonton mereka berkurang serta film yang diproduksi juga semakin sedikit.

West Side Story

Pada 1960 keberhasilan film West Side Story, The Music Man, My Fair Lady, Mary Poppins, dan The Sound of Music menyarankan bahwa musik tradisional berada dalam kesehatan yang baik.

Selera musik populer Namun sedang sangat dipengaruhi oleh rock and roll dan kebebasan dan pemuda yang berkaitan dengan itu, dan memang Elvis Presley membuat beberapa film yang telah disamakan dengan musikal lama dalam segi bentuk.

Sebagian besar film musikal tahun 1950-an dan 1960-an seperti Oklahoma! dan The Sound of Music adalah adaptasi langsung atau restagings produksi tahap sukses.

Musikal paling sukses tahun 1960-an diciptakan khusus untuk film ini Mary Poppins, salah satu hits terbesar Disney.

Itulah informasi mengenai sejarah film musikal yang sampai sekarang masih ada. Kalian suka?

Perbedaan Film Dengan Teater Yang Harus Kamu Tahu

Film dan teater memang merupakan hal yang seringkali dijadikan hobi oleh sebagian orang. Walaupun sama-sama dilakukan dengan menonton dan mendengar, ternyata ada perbedaan antara film dan teater.

Teater adalah pertunjukan seni yang ditayangkan secara langsung di pentas. Sedangkan film adalah pertunjukkan dalam bentuk rekaman atau rekaman yang diputar di bioskop.

Dalam seni film dan seni teater tentu saja ada banyak perbedaan. Unsur yang membedakan adalah durasi, teknis, cerita, tempat pertunjukkan, actor, dan astistic.

Perbedaan Film dan Teater

Secara substansi memang keduanya cenderung sama, karena bergelut dalam bidang seni drama. Namun ada beberapa hal yang membuat dua seni peran ini berbeda.

Secara glamor film cukup menjanjikan karena mereka mencari uang lewat seni peran, sebaliknya dengan teater yang cenderung kita dipaksa menghidupi suatu kelompok.

Di Amerika, banyak artis Hollywood sebelum memulai memainkan peran dalam sebuah film harus belajar beberapa tahun dulu di sebuah kelompok teater.

Nah, untuk kalian yang ingin tahu lebih dalam, di bawah ini kami akan memberikan informasinya untuk kalian.

1.Durasi & Cerita

Biasanya dalam teater dirasi pementasan paling lama adalah 1 jam – 1,5 jam. Namun beda dengan film. Biasanya film memiliki durasi lebih dari 1 jam.

Di dalam teater, daam durasi tersebut ceritanya harus memiliki konflik dan penyelesaiannya saat pementasan itu berlangsung.

Sedangkan di dalam film tidak harus ada karena bisa saja ada kelanjutan film seperti film star wars yang ada series nya.

2.Teknis & Tempat Pertunjukkan

Di dalam teater teknis yang dibutuhkan adalah semua yang berhubungan di atas panggung. Semua itu harus diatur dengan baik dari perpindahan setting panggung, blocking, lighting, dan lain-lain.

Berbeda dengan film yang bisa di take berulang-ulang untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Selain itu, tempat pertunjukkan teater hanya 1 paten, dapat dilakukan di Indoor dan outdoor.

Kelebihannya adalah memungkinkan actor berkomunikasi dengan penonton. Sedangkan perfilman kelebihannya bisa take dimana saha bahkan bisa menggunaka green screen.

Namun actor tak bisa berkomunikasi dengan penonton karena pertunjukkan dilakukan melalui media.

3.Artistic dan Actor

Artistic yang ada di dalam film dan teater tak teralu berbeda karena adanya unsur lighting, property, make up, dan costume.

Namun yang membedakan adalah lighting yang dimana dalam pertunjukkan teater unsur lighting ini harus lebih terlihat, dan lebih focus pada titik apa.

Sedangkan di dalam film lighting yang digunakan hanyalah sebagai hiasan yang menunjukkan latar tersebut contohnya di siang hari ada sinar matahari.

Actor teater dan film seringkali juga berdebat mengenai acting yang benar seperti apa. Actor dalam teater harus menguasai penuh pedalaman karakter dalam naskah.

Karena dalam panggung pertunjukkan teater yang dilihat oleh penonton dari actor seluruh tubuh dari ujung kaki hingga ujung rambut.

Sedangkan perfilman tak harus menggerakan seluruh tubuhnya karena semuanya tergantung pada kamera.

Jika kamera hanya take atau mengambil bagian badan sampai kepala, actor hanya perlu menguasai pedalaman karakter sebatas itu saja.

Itulah perbedaan mengenai teater dan film yang mungkin kalian harus tahu. Terutama untuk kalian yang tertarik untuk menjadi seorang actor / aktris.

Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat sehingga bisa menambah ilmu pengetahuan kalian mengenai seni teater dan perfilman.